Berkenalan Dengan Imunisasi DPT

 

Kemarin Ale melakukan imunisasi di usianya yang masuk dua bulan. Jika merunut ke jadwal imunisasi-nya, kali ini Ale akan di imunisasi empat vaksin sekaligus yaitu DPT,  Hib, polio 2, Hepatitis B ke 2 atau biasa di sebut DPT combo. Banyak masukan yang saya dengar mengenai imunisasi ini, DPT khususnya. Efek yang di hasilkan setelah suntik DPT, dari banyak pengalaman ibu-ibu senior adalah panas/demam.

Sewaktu Ale ke posyandu untuk timbang berat badan, saya di tawari untuk imunisasi DPT. Saya dengan halus menolak dan memilih imunisasi di RS. Sok kaya? Bukan. Menurut hemat saya, akan lebih baik Ale mengambil sekaligus imunisasi yang sudah di jadwalkan DSA-nya, agar gak bolak-balik ke RS dan cukup sekali suntik. Dari ibu-ibu senior lain juga saya mengetahui kalau di posyandu, pemberian imunisasi di lakukan satu per satu. Saya kok ya kasihan kalau Ale jadi kebanyakan di suntik.

Karena hari itu mood Ale sedang gak bagus, ia terlihat lesu. Jika saat imunisasi BCG bulan lalu, ia gak pake nangis waktu di suntik. Kali ini beda, Ale menangis sekencang yang ia bisa hehehehehe. Dokter cantik dengan alis cetar di depannya pun gak ngaruh kayaknya.

Di Indonesia sendiri, vaksin yang di wajibkan bagi bayi ada lima macam yaitu BCG, Hepatitis B, Polio, DPT dan Campak. Oleh karena kelima vaksin tersebut di subsidi oleh pemerintah, makanya bisa di dapatkan di mana saja dengan harga yang terjangkau. Sementara imunisasi tambahan lainnya yang di anjurkan adalah Hib, PCV, MMR, Influenza, Varisela, Tifoid, Hepatitis A dan Rotavirus. Imunisasi sendiri sangat penting menurut saya, untuk mencegah penyakit berbahaya. Walau belakangan ini marak muncul gerakan anti vaksin, well, saya sebagai ibu pastinya menginginkan anak sehat kan.

sumber : ibupedia

Kembali ke soal vaksin DPT yaitu vaksin untuk mencegah penyakit Difteri, Tetanus dan Pertusis. Dokternya Ale menawarkan 2 jenis vaksin. Hal ini lebih ke after effectnya sih, di tawari mau yang panas atau gak panas. Saya ambil yang gak panas dengan biaya yang lebih mahal sedikit.

Di lansir dari akun @ibupedia, efek panas/tidak pada vaksin DPT lebih ke perbedaan pengertian aja sih. Vaksin yang DPT impor gak bikin bayi “Terlalu panas” di banding vaksin lokal. Namun, belakangan ini di salah artikan menjadi “Gak bikin bayi panas.”

Masih menurut @ibupedia beberapa beberapa hal di bawah ini, menjadi penyebab perbedaan harga antara vaksin lokal dan impor .

Vaksin lokal:
  1. Buatan dalam negeri, salah satu jenisnya adalah Pentabio.
  2. Harganya terjangkau.
  3. Bisa di dapatkan di posyandu, RS Umum, Puskesmas dan Bidan.
  4. Mengandung komponen Pertusis Wholecell, artinya pembuatan vaksin menggunakan seluruh kuman hidup yang di lemahkan. Akibatnya, anak berisiko demam hingga kejang.

 

Vaksin Impor :
  1. Produksi impor
  2. Harganya sangat mahal karena proses pembuatannya tidak mudah.
  3. Bisa di dapatkan di RS swasta atau dokter anak.
  4. Mengandung komponen Pertusis Aseluler, yaitu hanya bagian sel tertentu yang diambil untuk vaksin. Anak masih mungkin mengalami demam, tapi dengan resiko kecil.

 

Kedua jenis vaksin diatas tentu sama-sama baik untuk kesehatan bayi. Biasanya kalau dari awal ibu sudah menggunakan salah satu jenis vaksin, maka jadwal pemberian DPT berikutnya harus pakai jenis yang sama agar maksimal. Jika terpaksan berganti, maka ibu harus konsultasikan dulu dengan dokter anak.Oh ya, untuk membedakan vaksin asli atau palsu, mintalah kemasan vaksin ke dokter. Pada vaksin asli, di kemasan tertera dengan jelas tanggal kadaluarsa dan nomor unik tiap vaksin yang berbeda satu dengan lainnya. Kemasan pun dalam keadaan bersih, tidak robek dan di segel.

Oleh dokter biasanya kemasan vaksin asli di tempelkan di buku kesehatan anak pada saat imunisasi

Bagaimana dengan Ale? Seperti yang saya bilang sebelumnya mengenai pengertian panas/tidak, mahal bukan berarti gak panas. Hanya mengurangi kadarnya saja. Menurut Dsa-nya Ale, mau semahal apapun vaksinya kalau pada saat pemberian vaksin daya tahan tubuh si bayi sedang gak bagus ya panas aja.

Hal ini terbukti pada Ale, mungkin karena memang Ale sedang menurun daya tahan tubuhnya. Sore kemarin suhu tubuhnya naik 0,5 derajat aja sih. Saya sebagai new mom pastinya panic dong ya. Hubby sih tetap tenang dan menjelaskan kalau suhu tubu 37,5 itu masih termasuk normal. Menurut ibu saya, suhu tubuh Ale meningkat karena tubuhnya sedang menyesuaikan diri dengan vaksin yang baru saja masuk ke tubuhnya. Bisa di sebut reaksi tubuh, katanya.

Alhamdulilah, Ale gak sampai panas tinggi sih. Agar panasnya cepat turun, saya menempelkan Kool fever di dahinya semalaman. Syukur, pagi ini ia sudah kembali ceria dan bersemangat.

 

Kalau buk-ibuk kece lainnya punya cerita soal imunisasi? Cerita dong.