Alasan kenapa sinetron Dunia Terbalik menjadi menarik

Hai..ibuk kece!

Siapa aja sih yang suka ngikutin sinteron ini? Cung! Sama dong, saya juga. Semenjak cuti hamil saya jadi rajin deh mengikuti drama  satu ini  Sinetron yang tayang di salah satu televisi swasta ini memang mencuri perhatian saya dan juga mungkin ibuk-ibuk kece lainnya. Nama-nama seperti Akum, Aceng, Dadang dan Idoy juga sepertinya menjadi nama yang sangat familiar, belum lagi jargon atau kalimat khas yang biasa di ucapkan keempatnya pasti ibuk-ibuk kece sudah hafal di luar kepala.

Cerita sederhana yang mengangkat tema kehidupan para suami yang di tinggal istrinya menjadi TKW   memang sangat menarik yah Buk. Kodrat kelelakian mereka di paksa untuk terbalik. Segala hal  yang biasa dilakukan para istri mulai dari rumpi, ngurus rumah sampai nunggu tukang sayur pun kini di lakukan para suami. Yah, namanya juga Dunia Terbalik.

Tema sinetron ini ternyata memang benar terjadi lho Buk. Kemarin saya menemukan salah satu link berita yang menyajikan berita tentang kehidupan nyata para suami di desa TKW ini.

Banyak hal yang menjadikan sinteron ini menarik untuk di ikuti lho Buk. Apa saja sih? Yuk, disimak.

  1. Cerita yang sarat dengan budaya lokal

Mengambil latar di sebuah pedesaan Jawa Barat, sinetron ini menyuguhkan kehidupan warga desa yang sarat dengan budaya sunda. Hal ini bisa terlihat dari dialek yang di pakai, kostum yang sederhana, nama-nama tokoh dan tempat yang khas juga nyanyian yang sundaaaa banget..(inget si ucuy kalo nyanyi sambil jualan cilok..gimana kaaan)

2 .Tidak menjual kemewahan

Jangan berharap bisa melihat mobil mewah ataupun rumah mewah sebagi latar rumah tokohnya ya. Apalagi kehidupan modern ala-ala sinetron ABG yang di bumbui bullying. Nggak ada, sinetron ini justru menyuguhkan kehidupan sederhana para tokohnya, dengan profesi yang biasa kita temui sehari-hari semisal tukang perabot, tukang cilok dsb. Tokoh paling kaya pun di perlihatkan dengan symbol pemakaian emas di sekujur tubuh lalu memamerkannya kepada orang lain atau sebatas makan fried chicken yang nggak terkenal .

 

3.Memberi contoh lewat perilaku para tokoh yang memang ada dalam kehidupan sehari-hari

Pernah bertemu dengan orang yang ngebet di panggil ustad padahal dia gak ngerti agama? Ibu-ibu yang suka drama dan cari perhatian demi di kasihani orang lain? Seorang ayah yang rela membohongi putrinya demi mendapatkan uang? Atau mungkin tukang cilok jujur yang mengetahui dirinya anak  buangan tapi tetap hormat pada orang tua angkatnya, dan dukun palsu yang berteman dengan pejabat dan artis ternama.

Semua karakter itu memang nyata kita temui sehari-hari ya Buk. Entah itu di lingkungan rumah, pekerjaan atau lingkungan sosial lainnya. Dari situ kita bisa belajar Buk, bahwa nggak semua orang itu baik tapi juga nggak semua orang itu jahat. Jadi jangan menilai kualitas seseorang dari kulit luarnya saja.

 

4. Pertarungan batin seorang lelaki mengenai kodratnya

Tokoh Akum maupun Koswara adalah tipikal lelaki yang mengagungkan kodratnya sebagai lelaki baik itu mengenai tugas dan kewajibannya. Bedanya, Akum masih bertarung dengan batinnya sendiri di mana ia tak bisa menolak fakta bahwa hidupnya di biayai oleh istrinya yang menjadi TKW. Sementara Koswara memilih untuk bekerja serabutan asalkan istrinya tidak menjadi TKW.

Di sisi lain tokoh lelaki di desa Ciraos ini seakan menerima kenyataan bahwa peran dan fungsi merweka sebagai pencari nafkah di gantikan oleh sang istri. Seiring berjalannya waktu justru menikmati pekerjaan rumah sembari menunggu kiriman uang setiap bulan dari istrinya.

Tokoh lain bahkan lebih gila, Si Aceng yang memang memiliki tabiat genit dan playboy bahkan memimpikan bisa beristri dua atau lebih agar bisa mengirimkan mereka sebagai TKW sehingga ia bisa menikmati kiriman uang tanpa melakukan apapun. Gilak!

 

5.Mengajarkan hubungan ayah dan anak ketika ibu tidak ada

Apakah peran ayah bisa menggantikan peran ibu sepenuhnya? Mungkin untuk urusan rumah dan tetek bengek lainnya, mereka bisa. Bagaimana ketika para ayah harus menghadapi anak perempuannya, terlebih mereka yang sedang memasuki usia pubertas.

Disinilah konflik di bangun, bagaimana para ayah mandiri menghadapi kenyataan anak gadisnya bukan lagi seorang malaikat kecil. Akum yang memiliki anak perempuan jelang  remaja harus menghadapi saat di mana fungsi ibu justru di butuhkan pada masa ini. Ia sebagai ayah tetap saja panik saat menghadapi hari pertama menstruasi sang anak. Belum lagi kebingungan saat tumbuh bintik kecil di wajah putrinya, mengira itu adalah cacar padahal hanya jerawat. Disini kita boleh tersenyum mengingat hal yang sama kita lalui dulu ya Buk.

 

6.Hormat terhadap orang yang lebih tua menjadikan sinetron ini sangat mendidik

Bagaimanapun menyebalkannya karakter orang tua tetaplah mereka sosok yang patut di hormati. Sinetron ini mengajarkan hal demikian. Beberapa tokoh orang tua di gambarkan begitu culas, drama queen, egois bahkan selalu ingin menang sendiri walaupun ada juga yang sebaliknya. Mereka yang muda tetap menghormati orang tua ini, baik melalui sikap mencium tangan tiap kali bertemu, atau berbicara dengan sopan dan lembut meski tahu tutur mereka akan di respon dengan cara yang tidak meyenangkan.

Well Buk-ibuk itulah sekelumit kesan saya mengenai sinteron Dunia Terbalik. Walaupun pertelevisian kita sedang di bmbardir dengan banyaknya tayangan gimmick, sinetron remaja yang berlebihan,  ternyata masih ada sinetron yang mengangkat tema kehidupan sehari-hari dan sarat pesan moral.

 

Kalau Ibuk-ibuk kece suka gak sinetron ini? Yuk sharing, kita ngobrol ngalor ngidul.

 

Jadi Ibuk-Ibu Kece pilih team siapa?